Langit sudah semakin gelap, lampu-lampu taman perlahan-lahan menyala. Jalanan semakin dipenuhi kendaraan, entah itu mobil-mobil mahal, angkutan umum, mini bus, sepeda motor, atau bahkan pejalan kaki. Mereka menampang wajah lelah, saling menyalip-nyalip ingin lekas sampai rumah.
Aku masih termenung menatap awan khas senja yang gelap namun indah, merasakan desiran lembut angin malam yang menerpa tubuhku. Entah sudah berapa lama aku duduk disini ditemani tegukan teh hangat dan tumpukan majalah-majalah tua. Pegawai-pegawai rumah sakit sesekali ramah menyapaku, menawarkan minuman lain atau sekedar mengajakku sholat magrib. Tapi akhirnya formasi-formasi burung yang unik di angkasalah yang lebih menarik perhatianku.
Harusnya hari ini aku tidak disini. Puluhan balon dan kue-kue sudah menunggu diruma. Badut pesta sudah dipesan. Tumpukan kado sudah tinggi. Para undangan sudah datang. Harusnya aku melihat bidadari kecil itu tersenyum senang. Menyanyikan lagu kanak-kanak bersama teman-teman seumurannya. Melihatnya meniup lilin ulang tahun ke2nya. Menari-nari mengembangkan gaunnya. Bukan melihat bidadari kecil itu bertaruh nyawa diruang perawatan dengan para dokter ahli.
Sudah seminggu ini bidadari penyemangat hidupku tergolek tak berdaya. Nafasnya berat naik turun. Matanya terus terpejam seakan enggan melihat dunia, seakan enggan menyapa dunia. Peralatan medis menempel diseluruh tubuhnya yang semakin kecil. Tapi senyumnya masih mengembang.