Tampilkan postingan dengan label little story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label little story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2011

Bidadari Kecil

Langit sudah semakin gelap, lampu-lampu taman perlahan-lahan menyala. Jalanan semakin dipenuhi kendaraan, entah itu mobil-mobil mahal, angkutan umum, mini bus, sepeda motor, atau bahkan pejalan kaki. Mereka menampang wajah lelah, saling menyalip-nyalip ingin lekas sampai rumah.

Aku masih termenung menatap awan khas senja yang gelap namun indah, merasakan desiran lembut angin malam yang menerpa tubuhku. Entah sudah berapa lama aku duduk disini ditemani tegukan teh hangat dan tumpukan majalah-majalah tua. Pegawai-pegawai rumah sakit sesekali ramah menyapaku, menawarkan minuman lain atau sekedar mengajakku sholat magrib. Tapi akhirnya formasi-formasi burung yang unik di angkasalah yang lebih menarik perhatianku.

Harusnya hari ini aku tidak disini. Puluhan balon dan kue-kue sudah menunggu diruma. Badut pesta sudah dipesan. Tumpukan kado sudah tinggi. Para undangan sudah datang. Harusnya aku melihat bidadari kecil itu tersenyum senang. Menyanyikan lagu  kanak-kanak bersama teman-teman seumurannya. Melihatnya meniup lilin ulang tahun ke2nya. Menari-nari mengembangkan gaunnya. Bukan melihat bidadari kecil itu bertaruh nyawa diruang perawatan dengan para dokter ahli.

Sudah seminggu ini bidadari penyemangat hidupku tergolek tak berdaya. Nafasnya berat naik turun. Matanya terus terpejam seakan enggan melihat dunia, seakan enggan menyapa dunia. Peralatan medis menempel diseluruh tubuhnya yang semakin kecil. Tapi senyumnya masih mengembang.

Kamis, 28 April 2011

Langit Merah

Sudah tahun ketiga aku berada disekolah ini untuk mendapat ilmu. Aku sudah lupa bagaimana kejadian pertengkaranku dengan Ayah sehari sebelum ia mengirimku ke sekolah asrama antah berantah ini. Sekolah yang menurutku ditempat terpencil, jauh dari keramaian, tidak menjanjikan, bahkan setiap orang yang kutanya tentang sekolah ini pasti akan menggeleng tidak tahu. Tapi lihatlah sekolah ini sungguh menyenangkan dan jauh dari pikiranku.
Guru-gurunya memang tua-tua lebih pantas berada dipanti jompo ketimbang mengajar kami, tetapi mereka pengajar yang hebat  yang selalu tidak pernah kehabisan daya imajinasi dalam proses pengajarannya. Dan kini aku benar-benar mengagumi sekolah ini, sama kagumnya dengan cerita-cerita Ayah tentang sekolah ini. Sekolah yang menurut Ayah akan menjadikanku lebih dari yang aku mau.
“13 I  ditambah 12 I …..” suara Pak Idrus samar-samar terdengar ditengah lamunanku membayangkan jam istirahat. Benar saja ini sudah hampir habis jam istirahat tapi beliau masih tega menghujami kami dengan rumus-rumus fisika. Padahal aku benar-benar yakin mereka yang duduk depan pasti sudah basah kuyub kena hujan lokal.
Disekolah ini pak Idrus sangat terkenal dengan kedisiplinan dan kesangarannya. Pantas saja beliau tidak hanya menjabat sebagai guru fisika melainkan sebagai kepala sekolah juga. Umurnya sudah 60tahun tapi ilmunya tentang alam terus berputar didalam otaknya. Beliau bahkan menguasai 5 bidang mata pelajaran sekaligus.
Kalau saja ini bukan karena hukuman kemarin aku mematahkan alat praktik daya hantar listrik pastilah sekarang aku bisa menghirup udara bebas. Mencomot semua kue yang ada didapur atau menikmati angin diatas menara perpustakaan sambil menggambar. Hal yang mengasikkan sudah menungguku tapi wajah Pak Idrus seakan menegaskan “tetap diam disini kamu, Lang”
Sekolah ini memang antik. Tidak ada jadwal pelajaran yang harus diikuti siswanya. Kami semua bebas memilih pelajaran apa saja yang kita ikuti setiap harinya namun dengan catatan semua nilai mata pelajaran tercapai sesuai standart. Dan pastilah aku tidak akan sudi menghabiskan waktuku untuk mengikuti pelajaran ini, bagiku pelajaran menggambar dan komputer tetap nomer satu.
Jangan ditanya sekolah ini pastilah tidak memiliki komputer, jangankan komputer untuk telepon saja masih menggunakan telepon koin. Disini kita hanya diajarkan teorinya saja sedang prakternya kita meminjam komputer milik desa sekitar dan itu pastinya kita diperkenankan keluar dari asrma sekolah antah berantah ini. Percayalah sekolahku memang sangat kalah dengan desa sekitar apalagi sekolah lain nun jauh dikota tapi ini sekolah tidak pernah diragukan, begitu kata Ayah membanggakan.

Sabtu, 30 Oktober 2010

satu hadiah untuk adik dan ibuku

Dista gak pernah berfikir hidupnya akan dihabiskan selama berbulan bulan difakultas kedokteran UI . dia juga gak pernah berfikir kelak menjadi dokter . mengurus pasien pasien dirumah sakit sedangkan dia sendiri sering lupa mengurus dirinya .

Sejak 12 tahun yang lalu kehidupannya berubah, berubah menjadi tertekan menurutnya . apapun keputusan dan cita citanya pasti tak mungkin terwujud . dan dirinyapun seakan tak dianggap lagi .

Dista punya sodara kembar, namanya Disnia . sejak kecil mereka hidup terpisah . entah mungkin karena takdir, mereka sejak lahir tak pernah dipertemukan . keadaan keduanya yang saat itu lahir prematuer membuat salah satu diantaranya mengalami kelainan dan sayangnya yang menimpa itu Disnia . gadis cantik yang menurut Dista memiliki aura positif bagi yang melihat dan intelektualitas, harus menderita sirosis hati . keadaan itu memburuk dimana papa mendapat tugas ke Kalimantan . jujur saat itu keluarga mereka dilema . pasangan yang menikah 25 tahun yang lalu itu harus memutuskan siapa yang menjadi prioritas . dan nasib menentukan keduanya dipisahkan .
Mama dan papa menganggap tak menjadi masalah bila Dista tinggal bersama nenek di Bandung sementara dan Disnia ikut mereka ke Kalimantan dengan alasan kesehatan Disnia lebih penting . sebenernya perpisahan mereka itu memang tak dianggap masalah bagi Dista . bahkan bila boleh memilih dia ingin tetap tinggal di Bandung bersama neneknya dari pada hidup yang sudah dia rencanakan hancur karena rencana orangtuanya .