Langit sudah semakin gelap, lampu-lampu taman perlahan-lahan menyala. Jalanan semakin dipenuhi kendaraan, entah itu mobil-mobil mahal, angkutan umum, mini bus, sepeda motor, atau bahkan pejalan kaki. Mereka menampang wajah lelah, saling menyalip-nyalip ingin lekas sampai rumah.
Aku masih termenung menatap awan khas senja yang gelap namun indah, merasakan desiran lembut angin malam yang menerpa tubuhku. Entah sudah berapa lama aku duduk disini ditemani tegukan teh hangat dan tumpukan majalah-majalah tua. Pegawai-pegawai rumah sakit sesekali ramah menyapaku, menawarkan minuman lain atau sekedar mengajakku sholat magrib. Tapi akhirnya formasi-formasi burung yang unik di angkasalah yang lebih menarik perhatianku.
Harusnya hari ini aku tidak disini. Puluhan balon dan kue-kue sudah menunggu diruma. Badut pesta sudah dipesan. Tumpukan kado sudah tinggi. Para undangan sudah datang. Harusnya aku melihat bidadari kecil itu tersenyum senang. Menyanyikan lagu kanak-kanak bersama teman-teman seumurannya. Melihatnya meniup lilin ulang tahun ke2nya. Menari-nari mengembangkan gaunnya. Bukan melihat bidadari kecil itu bertaruh nyawa diruang perawatan dengan para dokter ahli.
Sudah seminggu ini bidadari penyemangat hidupku tergolek tak berdaya. Nafasnya berat naik turun. Matanya terus terpejam seakan enggan melihat dunia, seakan enggan menyapa dunia. Peralatan medis menempel diseluruh tubuhnya yang semakin kecil. Tapi senyumnya masih mengembang.
“Sudah sholat, Kara?” Kak Tyas entah sejak kapan sudah berada didepanku. Menatapku lembut dan tersenyum sangat hangat. Ia terlihat sangat cantik dibalik kerudung dan make up tipis diwajahnya.
“Belum Kak. Bagaimana keadaan Filzah sekarang, Kak?”
Sejak siang tadi hal ini yang terus memenuhi pikiranku. Keadaan Filzah belum bisa dipastikan. Dokter-dokter ahli sudah berjam-jam memeriksanya dan belum tahu apa hasilnya. Tidak ada hal yang lebih penting dari keadaan bidadari kecil ini. Aku merindukan tawanya.
“Entahlah, Kar. Aku sendiri sudah lelah menunggunya. Aku khawatir dengan anakku. Bagaimana aku bisa tega melihatnya bertaruh nyawa didalam sana. Kita berdoa saja untuk kesembuhannya…..”
Aku merasa ruang tunggu rumah sakit ini semakin sempit. Sesak untuk aku bernafas. Mataku panas dan berair. Dunia seakan mogok berputar. Apa yang harus kita lakukan? Aku rindu senyum gadis kecil itu. Aku rindu semangat-semangatnya. Aku ingin melihatnya menggunakan gaun biru dan berpesta sekarang, bukan di rumah sakit.
Lihatlah kakakku ini. Diusianya yang baru 32 tahun, kerutan sudah nampak disebagian wajahnya. Lelahnya pasti tak terkira menghadapi keadaan Filzah yang semakin parah. Dulu ia adalah orang yang selalu membuatku iri. Lulus kuliah dengan nilai tertinggi, kerja di perusahaan besar, menikah dengan orang yang disayang, dikaruniai seorang bidadari kecil. Hidupnya berjalan terasa sempurna sampai akhirnya cobaan berat ini datang. Beruntung tak hanya ia dan suaminya yang tegar, aku yakin Filzah juga punya semangat yang besar untuk sembuh, untuk terus tumbuh bersama orang tuanya.
“…..Temani aku makan yuk,Kar?” Kak Tyas akhirnya bicara setelah beberapa menit diantara kita hanya terdiam, melamun, berfikir, atau berdoa.
“Yuk Kak.”
******
“Anak ini hebat. Keadaannya cepat membaik, Bu. Ia berhasil melewati masa sulitnya...”
Ku kerjap-kerjapkan mataku, berusaha kubuka. Kulirik jam dinding kamar rumah sakit yang menunjukkan pukul 11.00 malam. TV masih menyala, tidak ada yang melihat. Kak Tyas berdiri didepan pintu bersama dokter. Filzah sudah tertidur sangat cantik di kasurnya. Sepertinya aku tertidur setelah sholat magrib, mukenah masih aku kenakan.
“Selama menunggu alat bantu pendengarannya jadi, Filzah tetap dirawat disini, Bu. Ini juga bertujuan memudahkan kami mengontrol keadaannya.”
Samar-samar aku mendengarkan pembicaraan kedua orang itu. Sampai semalam ini apa yang dilakukan dokter-dokter itu? Bagaimana keadaan keponakanku ini? Apa yang harus kita lakukan? Aah aku semakin penasaran .
“Baik, Dok. Apapun yang terbaik untuk anakku, tolong lakukan, Dok.”
“Pasti, Bu. Selamat malam.”
“Malam, Dok. Terimakasih.”
“Apa yang dikatakan dokter, Kak? Bagaimana keadaannya? Kenapa sampai semalam ini? Tidak terjadi hal yang serius kan? Filzah masih bisa sembuh kan?”
“Kamu sudah bangun, Kara? Sepertinya tidurmu sangat lelap.”
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Aku merasa salah tingkah. Aku benar-benar khawatir dengan Filzah sampai-sampai aku langsung menanyakan semua pertanyaan yang memenuhi otakku sejak tadi , sebelum Kak Tyas benar-benar masuk kamar dan menutup pintu.
“Ehh… Ehh… maaf, Kak. Aku benar-benar khawatir.”
“Tidak apa-apa. Kamu pasti sudah mendengarnya tadi. Filzah baik-baik saja...” Senyumnya tersungging lagi. Lembuh dan hangat. Aku rasa ia orang yang paling tegar sedunia. “…Tidur lagi Kar. Besok pagi siapkan tenagamu mendengar mimpi indah bidadari kecil ini. Selamat malam, Kara… Selamat malam, Putru Kecilku.”
“Baa…Maa…Baaa, Maa.”
Diam. Mendadak ruangan ini menjadi sunyi. Suara TV seperti menjadi backsound di adegan film. Apa tadi yang kudengar?? Derungan pelan dari Filzah? Suara lembut seperti beledu. Aku dan Kak Tyas saling berpandangan. Kami tertegun. Satu detik. Tiga detik. Lima detik. Kemudian kami tersenyum dan tertawa satu sama lain.
“Selamat malam, Filzah.”
Meski pelan, jika kalian tahu artinya, gerungan itu sungguh membuncah hati. Lihatlah, kanak-kanak yang genap berumur dua tahun hari ini, kanak-kanak yang sejak tadi berjuang melewati masa sulitnya, kanak-kanak yang menjadi semangatku, kanak-kanak yang sekarang tertidur sangat cantik dan mungkin bermimpi menjadi seorang putri, kanak-kanak yang bisu dan tuli, baru saja mengatakan kalimat “Selamat malam, Bunda. Moga mimpi indah.” Aku yakin itu. Kak Tyas juga yakin itu. Cepat sembuh, Cantik.
*****
Cahaya matahari pagi menyelisik celah krei. Membentuk garis di lantai keramik kamar. Cahaya yang seolah mengembang bersama kabut. Satu lariknya menimpa wajah Filzah. Mukanya lucu menggemaskan. Rambutnya keriting tipis, pipinya tembam dan ada lesung pipi. Giginya beberapa dan kecil-kecil.
“Bangun, bangun! Sudah pagi….” Filzah berseru sambil melompat riang ke atas ranjang. Tertawa. Ditangannya ada origami burung kecil berwarna biru. Ia tertawa. Melompat. Menggoyang-goyang kan tubuh Bundanya. Ia senang dan bersemangat sekali.
“Bunda, Bangun! Bangun, bangun! Tante, Bangun!”
Buuuk! Filzah terjatuh diatas kasur. Tertawa. Sedetik kemudian berdiri dan melompat lagi. Menari lagi. Menerbangkan origami burung itu. Anak ini ajaib. Riang tak terkendali. Malaikat pagi. Kecil dan mengemaskan.
“Bunda…Isah bawa jus buat Bunda.”
Kak Tyas terbangun menghela nafas, berusaha duduk bersandarkan bantal. Sekali lagi menghembuskan nafas panjang. Allah, apa ia tak salah lihat? Apa ini untuk kesekian kalinya mimpi-mimpi itu menipunya? Filzah sudah terduduk didepannya, susah payah membawa gelas yang ukurannya lebih besar ketimbang tangannya. Jus jeruk segar terisi penuh dalam gelas itu. Kanak-kanak kecil itu tersenyum manis.
Kak Tyas tak sempat berfikir panjang. Menatap gelas yang dipegang putri semata wayangnya. Filzah berdiri mengulurkan gelas itu. Sayang, kali ini Filzah tidak hati-hati lagi. Kaki kanannya tersangkut bantal. Limbung. Kanak-kanak itu berseru pelan, kaget. Dan dalam hitungan detik, air jeruk yang dari tadi susah dibawanya , tumpah ruah. Membasahi badan Bundanya…..
Dan seketika Kak Tyas benar-benar terbangun!
Badannya memang basah terkena tumpahan jus. Gelas besar itu terjatuh dibawah tempat tidur, pecah berantakan. Tapi, Putri kecilnya masih tertidur. Matanya masih terpejam. Mimpi itu datang lagi, mimpi yang membuatnya merasa dibohongi. Putrinya tetap tidak bisa berbicara bahkan mendengar.
“Kenapa, Kak?” aku merengsek mendekatinya. Ia masih nampak linglung. Terdiam sejenak kemudian tersenyum dan duduk memungut pecahan gelas itu.
“Bagaimana mungkin anakku membawakan jus jeruk ini untukku, Kara. Mimpi sialan itu datang lagi, berusaha menghinaku. Aah sudahlah, cepat kamu mandi hari ini pertama kali Filzah mengenakan alat pendengarannya.”
Aku ragu meninggalkan kakakku. Wajahnya tetap tersenyum. Tapi hatinya sakit dan perih. Ia tetap terlihat tegar. Memungut serpihan kaca. Mengelap lantai. Kemudian mencium kening anaknya. Aku yakin mimpi itu akan menjadi nyata.
*****
Seperti yang dikatakan Kak Tyas tadi pagi, hari ini pertama kalinya Filzah mengenakan alat bantu pendengarannya. Ia akan segera bisa mendengar. Mendengar nyanyian burung setiap pagi seperti yang biasa ku ceritakan padanya. Menyapa ibunya. Mendengar betapa kedua orang tuanya berharap ia tumbuh menjadi anak normal.
Filzah senang bukan main, seperti aku dan Ibunya. Ia terus tersenyum dipelukan Kak Tyas. Memainkan burung origaminya. Tersenyum. Menatapku. Menatap Ibunya. Tertawa. Ia sangat cantik dibalik baju putihnya. Manis dan penuh semangat.
Ini bukan mimpi, ini kenyataan. Malaikat kecil ini begitu terlihat sangat normal pagi ini. Tak sabar mengenakan alat pendengarannya. Tak sabar mendengar dunia. Ia terus berguman pelan. Melihat setiap sudut rumah sakit. Tertawa melihat orang-orang. Berguman lagi. Tertawa lagi. Ahhh anak ini menggemaskan sekali. Sangat bersemangat sekali. Jika kau tak sadar, kau akan menganggap anak ini normal.
“Baaaa….Maaaa…Baaa…”
“Iya sayang, Bunda juga tidak sabar….”
Aku tersenyum melihat keponakanku ini. Aku yakin kamu memang anak yang kuat. Seperti yang kulihat 2 tahun lalu. Tangismu memecah begitu keras ketika melihat dunia. Kamu sangat bersemangat menjalani hidup. Kamu kuat melewati masa-masa komamu seminggu setelah kamu lahir. Kamu kuat melewati masa sulitmu beberapa jam yang lalu. Dan semangatmu tetap tak padam. Malah membiuskan orang-orang disekitarmu. Kamu jauh lebih hebat disbanding anak normal lainnya, Zah.
“Pagi, Dok…”
Ramah Kak Tyas menyapa Dokter Edward. Ini dokter hebat yang merawat keponakanku. Filzah tersenyum menyapa dokternya. Selamat pagi, Dokter.
“Pagi, Bu. Pagi Filzah. Pagi Kara. Sudah siap menyasikkan pertunjukan hebat? Hahaha…”
Dokter ini ramah sekali. Kami tertawa bebarengan. Filah juga. Sepertinya dia mendengar yang dikatakan dokter ini.
“Filzah siap nak mendengar suara merdu ibumu?....” dokter ini tertawa lagi. Aku dan Kak Tyas tersenyum lagi. “Baik sini, Nak. Biar kupasangkan alat ini. Sepertinya kamu sudah tidak sabar. Kamu terlihat jauh lebih baik ketimbang kemarin malam.”
Ini detik-detik yang sudah kami tunggu sejak dulu. Sejak dipastikan Filzah bisu dan tuli 6 bulan yang lalu. Moment yang selalu kami dambakan. Mimpi-mimpi penghinaan itu akan segera berakhir. Menarilah kamu bidadari kecilku.
Filzah terus tertawa senang. Geli, ditelinganya menempel benda kecil. Sesekali benda itu berbunyi lantang kalau tidak terpasang dengan benar. Aku tertawa melihat tingkah keponakanku ini. Aku ingin dengar kalimat pertamanya. Aku ingin lihat ia menoleh ketika kupanggil, ketika ibunya memanggil, ketika ayahnya memanggil, dan semua orang yang menyayanginya mengatakan takjub melihat bidadari ini.
“Nah gadis cantik ini akan tumbuh menjadi orang hebat. Percaya, Bu?....” Dokter Edward menyerahkan Filzah kepangkuan Ibunya lagi. Membenarkan stetoskop dilehernya yang sedari tadi ditarik-tarik Filzah. “….Dari awal saya menangani Filzah, saya yakin ia pasti sembuh. Ia punya semangat luar biasa yang membuat saya dan dokter-dokter lain lebih bersemangat menyembuhkannya….”
“….Nah, sekarang Filzah tidak lagi terputus dengan dunianya. Tolong jaga alat ini, Bu. Jika alat ini berbunyi maka Ibu langsung membenarkan posisinya. Alat ini digunakan sampai Filzah besar.”
“Terimakasih, Dok. Tidak ada hadiah yang lebih mahal harganya dibanding keajaiban hari ini. Terimakasih, Dok.”
Aku melihat Kak Tyas menitikkan air mata. Make up-nya yang tipis luntur. Ia terus tersenyum. Memeluk anaknya. Bidadarinya. Menciumnya dan mengatakan bahwa ia beruntung memiliki anak ajaib seperti Filzah. Sampai kita meninggalkan Rumah Sakit, Kak Tyas tetap tak henti memeluk anaknya. Terimakasih Tuhan atas hadiahmu.
Sejak hari ini aku percaya Filzah benar-benar makhluk ciptaan-Mu yang luar biasa. Aku tak percaya kemarin malam aku menangis dihadapan-Mu, memohon bantuan-Mu. Kekuatan agar Filzah bisa sembuh, bisa mendengar, bisa melewati masa kritisnya. Sekarang bidadari kecil ini menari dipangkuan ibunya. Terus menggerung pelan seperti berkata kepada-Mu bahwa ia senang dan bersyukur. Ia tertawa dan tersenyum lagi.
cerita ini di dedikasikan buat Filzah, adiknya Firda.
semoga kamu tumbuh jadi anak yang hebat, diatas anak normal lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar