Sabtu, 30 Oktober 2010

satu hadiah untuk adik dan ibuku

Dista gak pernah berfikir hidupnya akan dihabiskan selama berbulan bulan difakultas kedokteran UI . dia juga gak pernah berfikir kelak menjadi dokter . mengurus pasien pasien dirumah sakit sedangkan dia sendiri sering lupa mengurus dirinya .

Sejak 12 tahun yang lalu kehidupannya berubah, berubah menjadi tertekan menurutnya . apapun keputusan dan cita citanya pasti tak mungkin terwujud . dan dirinyapun seakan tak dianggap lagi .

Dista punya sodara kembar, namanya Disnia . sejak kecil mereka hidup terpisah . entah mungkin karena takdir, mereka sejak lahir tak pernah dipertemukan . keadaan keduanya yang saat itu lahir prematuer membuat salah satu diantaranya mengalami kelainan dan sayangnya yang menimpa itu Disnia . gadis cantik yang menurut Dista memiliki aura positif bagi yang melihat dan intelektualitas, harus menderita sirosis hati . keadaan itu memburuk dimana papa mendapat tugas ke Kalimantan . jujur saat itu keluarga mereka dilema . pasangan yang menikah 25 tahun yang lalu itu harus memutuskan siapa yang menjadi prioritas . dan nasib menentukan keduanya dipisahkan .
Mama dan papa menganggap tak menjadi masalah bila Dista tinggal bersama nenek di Bandung sementara dan Disnia ikut mereka ke Kalimantan dengan alasan kesehatan Disnia lebih penting . sebenernya perpisahan mereka itu memang tak dianggap masalah bagi Dista . bahkan bila boleh memilih dia ingin tetap tinggal di Bandung bersama neneknya dari pada hidup yang sudah dia rencanakan hancur karena rencana orangtuanya .

 Dia lebih bangga menjadi dirinya yang dulu ketika setiap sore bermain bola dengan anak laki laki sebayanya, berebut layangan, bermain gundu, memukul teman atau tidur berdua dengan nenek dirumah sederhana yang setiap malam membuatnya menangis karena digigit nyamuk . dia lebih bangga dipanggil sihitam dari pada dipanggil bu dokter . tapi kebanggaan dan angan angannya itu hilang bersama raga neneknya . seseorang yang dimilikinya sejak lahir . seseorang yang paling bangga dengan dirinya walau setiap pengambilan raport selalu ditegur guru karena suka berkelahi . dia lebih nyaman dipeluk nenek tua yang rapuh tapi kuat menjaga dan merawatnya .

setelah 10 tahun bersama neneknya, Dista memang tak pernah bisa mengenal orangtuanya . jelas saja mereka sama sekali tak pernah menjenguk Dista dan neneknya di Bandung . mungkin hanya beberapa pesuruh papanya yang datang setiap bulan untuk mengantarkan uang atau kebutuhan lain untuk mereka . bila ditanya mengapa bukan mereka sendiri yang datang, hanya kata "maaf papa sedang sibuk dan Disnia tak mungkin melakukan perjalanan jauh" yang selalu Dista dengar . Dista tak peduli hal itu . meski orangtuanya tak berkunjung ketika lebaran, dia sama sekali tak sedih . tapi dia akan menangis dan menutup diri bila neneknya yang pergi . dan hal itu kini terjadi padanya .

 malam yang waktu itu terasa dingin . nenek terus batuk dari 2 hari yang lalu . kadang Dista harus terbangun karena mendengar batuk neneknya . dia sudah berusaha membujuk nenek untuk pergi kedokter . tapi nenek selalu menolak, alasannya biaya kedokter memakan biaya untuk sekolahnya . padahal Dista tahu betul uang dari papanya yang dikirim minggu lalu masih sangat cukup bila diambil sedikit untuk biaya berobat nenek . tapi membujuk nenek sama saja memaksa anjing mengeong .

nenek sendiri masih sempat membuat sarapan untuk Dista pagi harinya bahkan mengantarkannya sekolah . Dista heran, untuk apa nenek mengantarnya toh biasanya dia juga pergi sendiri??? tapi namanya anak kecil pikirannya belum panjang . padahal saat itu moment terakhir yang dirasakan Dista bersama neneknya .
sepulang mengantarkan dista, nenek mampir kepasar membeli sweeter . cuaca Bandung memang sedang dingin dinginnya terutama dimusim hujan seperti ini, tapi nenek membeli sweeter itu dirasa tidak biasa . lebih dari 30 tahun nenek menetap di Bandung tapi masa' hanya cuaca seperti ini nenek merasa kedinginan .
dan benar saja . ada sesuatu yang tidak beres dengan nenek . malam harinya nenek demam bahkan sempat pingsan ketika selesai sholat magrib . Dista yang panik langsung berlari keluar rumah meminta pertolongan . tetangga yang kebetulan lewat langsung membawa nenek ke puskesmas dan hasilnya nenek memang sedang tidak baik . beberapa hari kemudian nenek langsung meninggal . Dista down . Dista sedih dan dia marah . dia melarang siapapun yang menyentuh jasat neneknya . dia terus memeluk neneknya dengan memakai mukenah dan memaksa jasat neneknya untuk membaca al-quran yang dibawanya . di usianya yang 10tahun dia tahu betul apa maksut meninggal tapi dia tidak tahu kenapa harus saat itu neneknya pergi .

------------------------------------------------------------------------------------
dan kepahitan sejak saat itu menimpa Dista . setelah mendapat kabar neneknya meninggal, papa dan mama Dista datang untuk membawanya pergi ke Jakarta . bagi Dista hidup dengan orangtuanya adalah hidup bersama orang asing yang sama sekali tak dia kenal . meskipun sejak saat itu saudara kembarnya tidur disampingnya, dia tetap merasa canggung memanggil 'adik' . bahkan ketika memanggil mama pun mulutnya bergetar . ini karena salah orangtua Dista yang tak pernah merawatnya .

sekian lama Dista tak pernah bisa hidup bebas bersama keluarganya . dia tak pernah lagi bermain bola, tak pernah lagi mengejar layangan atau bahkan memanjat pohon . yang dilakukannya sehari hari adalah sekolah, menceritakan sekolahnya pada Disnia dan menemani Disnia bermain boneka . Suatu saat kejenuhan Dista memuncak . dia rindu dengan layanngan . dia nekat bermain layang layang dihalaman belakang rumahnya yang lebar kira kira seukuran rumah Dista dulu di Bandung . dia nampak asyik saat itu . seperti melihat hidupnya kembali, tapi dia tak sadar bahwa mendapat masalah . Disnia seakan tertarik dengan permainan itu . dia menghampiri Dista yang asyik berteriak dan berlari kesana kemari . tapi penyakit kelainan jantung membuat Disnia tak bisa kelelahan, dia sesak nafas dan langsung pingsan . Dista berusaha menolongnya, membawakan bertablet tablet obat dan tentu saja memanggil mamanya . usahanya seakan tak dipandang, dia malah dihukum karena lalai menjaga adiknya . ini bukan salaahku! batin Dista . tapi dia bisa berbuat apa??? toh selama ini memang tak ada yang menganggap dirinya benar .
------------------------------------------------------------------------------------
Malam ini Dista duduk dibalkon kamarnya . tak pernah terlihat bintang dimalam ibukota, suara sayup sayup katakpun juga tak derdengar . baginya rumah sebesar ini masi tetap terasa sepi meskipun banyak orang EO mondar mandir mengurus pesta untuk besok malam . dan baginya memandang kertas undangan bertuliskan "BIRTHDAY PARTY NASILA THIARA DISNIA" lebih menyakitkan hatinya lagi .

besok adalah hari ulang tahun kedua saudara kembar itu, umur mereka genap 22tahun . seperti tahun tahun yang lalu acara ulang tahun bagi Dista tak ada yang menyenangkan . sejak kecil dia memang tak pernah mendapat hadiah dari siapapun . bukan karena dia yang menutup diri kepada siapapun tapi memang tak ada yang peduli sama dia bahkan orang tuanya . sejak tahun tahun yang lalu pesta ulang tahun itu tak pernah dipersembahkan untuk Dista juga . kue kue ulang tahun dan kartu ucapan hanya bertuliskan untuk Disnia .

bukan masalah memang baginya . dia tak peduli meskipun ulang tahunnya tak pernah dirayakan . selama ini juga dia sudar terbiasa mengalaaminya ketika masih bersama nenek . dia juga sudah terbiasa mendengar alasan mama "mungkin adikmu tak punya banyak waktu untuk merasakan ini" . tapi mulai 2 tahun yang lalu dia sangat mengutuk pesta ulang tahun . terutama melihat mantan sahabat sekaligus mantan kekasihnya yang kini selalu disamping Disnia .

bila menemukan mesin waktu, dia ingin memilikinya . dia ingin membatalkan kejadian Dista mengenalkan Rafi untuk pertamakalinya kepada Disnia . dia ingin membatalkan moment moment disaat ketiganya sering pergi bersama bila ujung ujungnya membuat Disnia jatuh hati sama Rafi .

seperti orang orang yang lainnya, Rafi pun seakan menjadi tak peduli apapun bila sudah bersama Disnia . Rafi langgsung meninggalkan Dista bila sudah bertemu Disnia . dia bahkan tak pernah menenangkan Dista ketika hatinya galau .

Rafi adalah cowok pertama yang Dista kenal ketika SMA . bisa dibilang Rafi itu kakak kelasnya . Rafi selalu nemenin Dista yang menganggap cewek cantik berambut sebahu itu memiliki daya tarik sendiri meskipun tak memiliki banyak teman . rafi menilai Dista itu cewek cantik yang auranya tertutup wajah cemberut . dan Dista juga menganggap Rafi adalah satu satunya orang yang bia membuat hidupnya berwarna selain neneknya .

tapi sekali lagi, angan angan untuk menikah bersama Rafi seakan sirna dan tentu saja ini karena Disnia . cewek itu selalu mendapat apa yang Dista mau dan cewek itu makhluk paling beruntung didunia . wajahnya cantik, rambutnya panjang, tubuhnya proposional dan dia seorang model . matanya indah, dia kalem dan siapun akan tertarik dengan dirinya . kekurangannya seakan tertutupi oleh kecantikannya, tapi ini sungguh tak adil bagi Dista . Dista tak memiliki banyak bakat, dia tak bisa berlenggak lenggok diatas panggung, debat bahasa inggris, menari atau menghitung volume tabung aja dia tak bisa . yang dia tahu selama hidupnya adalah musik, dan baginya musik adalah satu satunya bakat yang dia miliki . cita citanya ingin menjadi gitaris international seakan sirna juga, dan lagi lagi lagi karena Disnia .

menjadi seorang dokter seperti saat ini adalah sebuah paksaan bagi Dista . menurutnya tak ada alasan lain orang tuanya menjadikan seorang dokter bila bukan meminta Dista menyembuhkan Disnia kelak . "kamu benar benar mengambil semuanya dariku!!!!" guman Dista disela sela malam dan memandang langit gelap .

esok paginya rumah sudah ramai,sepertinya pesta ini lebih megah dibanding tahun kemarin .
"hay dear happy birthday buat kita berdua" sambut Disnia yang melihat Dista turun dari tanggga . gadis cantik itu langsung memeluk sodara kembarnya dan mencium kedua pipinya . ekspresi mukanya juga bahagia banget menambah kecantikan diwajahnya, berbeda dengan ekspresi muka Dista yang lebih suka menampang wajah datar atau lebih tepatnya tidak suka .
mama yang melihat keduanya juga langsung menghampiri . mama mencium pipi kedua putrinya dan seperti biasa mengucapkan selamat ulangtahun . bagi Dista keadaan ini sangat membosannkan dan gak layak dinikmati .
------------------------------------------------------------------------------------
didalam mobilnya menuju kampus, Dista terlihat melamun . suara lagu di radio seakan tak dipedulikannya bahkan beberapa pejalan umum yang hampir ditabraknya juga tak dihiraukan . entah apa yang dia fikirkan tapi sepertinya dia sedang galau .
tak lama dia membelokkan mobilnya kesebuah perumahan elit daerah kelapa gading . matanya masi tetap memandang kedepan dan kosong . setelah memasuki beberapa blok dan melewati lapangan kecil, Dista berhenti disebuah rumah besar berwarna putih . sepertinya ini yang dia tujuh dan sepertinya ini juga yang membuat dia menjadi galau . tapi kenapa dia tak langsung turun??? dia malah terlihat menelfon seseorang dan tak lama pemilik rumah itu keluar .

wajah cowok bertubuh tegap itu bingung melihat mobil sedan berhenti didepannya, tapi dia tahu betul siapa orang didalamnya . dia membuka pintu mobil dan langsung duduk disamping pengemudinya . cowok itu nurut saja ketika mobil sedan hitam mulai berjalan tanpa tahu mana arahnya . dia juga nampak melamun seperti gadis disampingnya .

akhirnya mereka berhenti disebuah cafe pinggir Jakarta . tempatnya asyik dan rindang . tapi untuk apa mereka kesini???? bukannya hari ini Dista ada ujian??? dan bukannya Rafi harus menemani Disnia??? apa yang sebenarnya terjadi???

mereka duduk di lantai atas . pemandangannya lebih menarik . jarang sekali Jakarta disuguhi pepohonan dan pegunungan . tapi mereka masi tetap diam . Dista hanya memandang juice apple didepannya dan hanya mengaduk aduk tanpa enggan meminumnya . sedang Rafi terlihat melamuni pemandangan didepannya .

"aku minta bantuannmu" kata Dista tiba tiba membuka pembicaraan .
"apa yang ingin kau mau???"
"tolong bujuk dokter itu."
tak disangka kata itu terlontar dari bibirnya . memang 2 minggu yang lalu mereka pernah membicarakan hal ini . tapi tak pernah ada kesepakatan dikeduanya . bahkan mereka sempat adu mulut dan ujungnya bertengkar . Rafi tak pernah mengharapkan masalah ini terungkit kembali tapi nyatanya hari ini mereka akan membahasnya . dan sampai sekarang Rafi tak menemukan jalan keluarnya .
"sudah ku katakan aku tak mau!!!!"
"aku mohon . aku jenuh Raf . tolong kali ini saja . anggap ini kado ulang tahun darimu." tatapan wajahnya memelas dan pasrah .
"gak . aku tetap tak bisa menolongmu . walaupun untuk kali ini saja . ini terlalu konyol . dan aku pikir masalah ini selesai ."
"ayolaah . aku benar benar ikhlas ." wajahnya lebih memelas .
"maaf aku tak bisa!" jawab Rafi sambil memalingkan muka . dia sangat risih dilihati Dista seperti itu .
"heeem baiklah mungkin harus dengan caraku sendiri ."

Rafi yang mulai mencium gelagat tidak enak dari Dista langsung menatap lekat lekat wajah Dista . dia ingin tahu apa sebenarnya yang diinginkan gadis yang pernah menjadi kekasihnya itu . yang dia harap bukan rencana konyol . karena Rafi kenal betul siapa Dista . dia akan melakukan banyak cara untuk mendapatkan yang dia mau termasuk dengan hal hal yang membahayakan dirinya . sedang Dista hanya senyum senyum menyimpan rahasia . matanya menggoda seakan-akan berkata "lihat apa yang kulakukan" . Rafi hanya terkulai pasrah karena dia tak menemukan jawaban atas rasa penasarannya .

tak lama Dista bangkit dari duduknya meninggalkan cafe itu . sadar akan kepergian Dista, Rafipun segera menyusul . dia takut Dista benar benar melakukan hal bodoh . karena gimanapun juga dia tetap khawatir .

dugaan Rafi ternyata salah . Dista ternyata langsung pulang kerumah dan bersiap siap mengikuti pesta karena sudah nampak banyak para undangan yang datang . Rafi sendiripun sebenarnya masih kurang yakin terhadap Dista tapi akhirnya memutuskan untuk segera pulang dan merapikan diri dan segera mengikuti pesta juga .
------------------------------------------------------------------------------------
suasana pesta nampak megah dan hiruk pikuk . banyak petugas katering yang mondar mandir membawa banyak makanan . terlihat Dista menggunakan dress coklat yang duduk dipinggir kolam renang sambil matanya memperhatikan kedua orang tuanya, Rafi dan Disna yang kewalahan menerima ucapan selamat serta kado istimewa .

Dista memang berusaha menyembunyikan dirinya . dia tak ingin kedatangannya disana membuat keadaan makin kacau . biarkan saja Disnia menjamu teman teman dan rekan modelnya . sedang Dista berusaha asyik menikmati acara pesta .

tapi duduk berlama lama membuat Dista bosan . apalagi melihat Rafi sesekali merangkul Disnia itu membuatnya ngiri . Dista langsung masuk kerumah lewat pintu samping dan duduk disebuah kursi kecil dekat garasi .

entah apa yang dia lakukan disana . tapi nampaknya dia sedang memandangi sebuah foto . foto apa??? mengapa tiba tiba Dista menangis??? padahal tak banyak hal bisa membuat Dista menangis . terakhir kali dia terlihat menangis adalah ketika pemakaman neneknya 12 tahun yang lalu . lalu dia kenapa???

ternyata foto yang dilihatnya adalah foto dia bersama neneknya ketika berumur 5 tahun . terlihat Dista kecil yang cantik menggendong boneka dan dicium neneknya . heem kira kira foto itu dibuat ketika ulang tahunnya yang kelima . dan nenek memberinya boneka panda yang juga ada difoto itu .

itu adalah satu satunya benda yang dia miliki hasil kenangan bersama neneknya . boneka panda itu sendiri tertinggal di Bandung, dirumah tua itu .

"nenek, aku rindu . harus bagaimana aku menghadapi ini??? aku ingin memeluknya dan menciumnya . aku ingin diciumnya . dibelai seperti layaknya anak . selama ini aku terlalu munafik untuk meminta hal itu . tapi selama ini juga mama telah mengabaikannku . aku rindu nyanyian ulang tahun untukku . aku ingin mendapat hadiah . aku ingin memotong kue . aku rindu hal itu"
"...mungkin aku terasa bodoh bila menangis . tapi sungguh aku menginginkan semua yang aku mau . aku ingin keadilan . aku ingin cinta ."
"Non Dista??"
Dista terkejut melihat bi Minah yang ternyata dari tadi melihatnya menangis . buru buru dia menyeka air matanya dan seketika wajahnya kembali seperti semula, datar .
"sejak kapan bi.." kata katanya terhenti . bi Minah memeluknya dan mengusap usap rambutnya . sepertinya dia tahu perasaan Dista . belaiannya seperti seorang ibu kepada anaknya . Dista yang lelah berusaha menikmati keadaan ini meski sebentar . dia tak mau munafik lagi . jujur dia menginginkan hal ini dari mamanya . meski kali ini bukan mama yang memeluknya tapi pelukan bi Minah tak kalah hangat . selama ini memang bi Minah yang selalu merawat Dista . jadi beliau tahu walaupun wajah anak majikannya ini kaku tetapi dia sangat rentan dan sedih . beliau juga tak ingin melepas pelukannya terlebih tangis Dista yang mulai terdengar kencang .

"Bibi tahu Non semuanya . bibi bisa merasakannya . Non yang sabar yah" perkataan ini membuat Dista makin menangis . dia makin sesenggukan dan mulai sesak nafas . sepertinya ini luapan tangisnya karena sudah lebih dari 10 tahun dia menahan tangis .
"...ini bibi bawakan kue." ditangan bi Minah ada sepotong kue kukus . diatasnya ada satu lilin berwarna merah, warna kesukaan Dista . terdengar sayup sayup alunan lagu happy birtday . iramanya kacau dan fals tapi Dista tak berkomentar . ternyata tak hanya bi Minah yang peduli terhadapnya, mang ujang supir pribadi papa dan pak karto pengurus taman juga ada untuk memberikan kejutan . yah kejutan untuk Dista .
"ayo non tiup lilinnya" ucap mang ujang yang dari tadi paling semangat nyanyinya . Dista menurut dan langsung meniup lilinnya .
tak disangka orang yang paling sayang terhadapnya adalah pegawai dirumahnya . orang yang suka jadi sasaran amuk Dista kalau telat kekampus . orang orang yang kadang kena jahil Dista . dan orang orang yang tak pernah dia bayangkan menyimpan rasa cinta paling besar dibanding orangtuanya .
"ini hanya pesta sederhana untuk non Dista" sambung pak karto sambil membagikan topi ulang tahun dan terompet . "KITAAA BERPESTA!!!!"

meski hanya sepotong roti kukus dan lilin bekas pesta tahun kemarin tapi Dista merasa sangat bahagia . dia tak peduli walau alunan musik jass dan pesta kembang api mewarnai halaman belakang rumah . dia tak peduli disela sela gemuruh itu mama mengumumkan rencana pertunangan Disnia . apa pertunangan??? benarkah Dista tak peduli??? atau memang dia tak tahu???
------------------------------------------------------------------------------------
Dista bergegas berganti baju, mengambil kunci mobil dan juga membawa beberapa potong baju . dia nampak buru buru . entah apa yang dia mau lakukan tapi ditangan kanannya terdapat map merah yang sepertinya sangat penting .

malam menunjukkan pukul 22.00 . pesta masih berlanjut dirumahnya dan sepertinya akan sampai larut malam . tak ada yang menyadari kepergian Dista termasuk para pegawai dirumahnya . sepertinya mereka sudah tidur karena kelelahan .

jalanan ibukota amat sepi . Dista menginjak pedal gas sampai kecepatan 100km/jam . sebenarnya akan kemana gadis itu malam malam??? untuk apa juga dia membawa beberapa pakaiaannya???

Dista menghentikan mobilnya disebuah rumah sakit daerah kemang . sepi tanpa aktifitas . hanya ruang UGD yang masi terlihat beberapa pegawai rumah sakit . Dista langsung menaiki lift menuju lantai 3 dan masuk kesebuah ruangan .
------------------------------------------------------------------------------------
mama terlihat bahagia setelah mendapat kabar dari telefon . katanya ada seseorang yang ingin mendonorkan hatinya untuk Disnia . dan kabar ini juga langsung didengar papa, Disnia, Rafi dan bahkan para pegawai . hanya satu orang dirumah ini yang sepertinya tak mengetahui kabar ini, Dista . tak terlihat sosoknya dimeja makan pagi itu . bibi sudah berulang kali mengatakan pada mama bahwa non Dista tak ada dikamar tapi sepertinya mama tak mendengar atau pura pura tak mendengar . mama terlalu bahagia mendengar kabar dari rumah sakit itu .

"mas...mas Rafi tunggu!" panggil bi Minah yang lari tergopoh gopoh melihat Rafi digarasi . sepertinya Rafi akan pulang karena dari kemarin dia belum pulang samapi pagi hari ini .
"ada apa Bi???" tanya Rafi yang kebingungan tumben tumbennya bi Minah memanggilnya .
"non Dista dari tadi subuh tak ada dikamar."
"maksutnya???" tanya Rafi bingung .
"sepertinya non Dista pergi dari rumah"
------------------------------------------------------------------------------------
Rafi terdiam disudut rumah sakit . dia nampak sangat lelah dan gelisah . sejak kemarin Dista belum diketahui keberadaannya bahkan handphonenya pun tidak aktif . padahal hari ini Disnia akan menjalani oprasi transplantasi hati dan ini moment yang sangat dinantikan . papa juga sudah berusaha menghubungi teman Dista atau siapapun untuk mencari tahu keberadaan Dista tapi hasilnya sia sia . sedang mama dari tadi sibuk mengurusi Disna . hanya sesekali dia menanyakan perkembangan Dista ke papa .

di depan Rafi duduk seseorang mengenakan topeng . tubuhnya mengenakan pakaian rumah sakit . kata dokter dia adalah orang yang ingin mendonorkan hatinya untuk Disnia . beberapa kali mama memaksa gadis itu melepas topengnya namun selalu ditolaknya . alasannya dia tak ingin wajahnya dikenali siapapun agar keluarga papa tak berbalas budi padanya . meskipun mama sedikit heran tapi mama menurut saja karena yakin usahanya membujuk akan gagal . toh siapapun dia sudah baik banget mau donorin hatinya untuk Disnia .

"operasi segera dimulai" kata seorang suster yang membuyarkan lamunan Rafi .
"baik saya masuk dulu" pamit Ruth pada mama yang dari tadi disampingnya . mama cuma balas angguk dan senyum .
------------------------------------------------------------------------------------
"operasi berjalan sukses . selamat yah pak-bu sekarang tingal tunggu keadaan pasien pulih" dokter yang keluar 2jam sesaat operasi langsung membawa berita baik dan menjabat tangan papa dan mama . pasangan suami istri itu sangat bahagia mereka terlihat sujud syukur dan berpelukan . Rafi sepertinya bingung harus bahagia atau khawatir karena jujur saja Dista masi belum ditemukan .

selang beberapa menit dua orang suster keluar membawa jenazah Ruth . mama melihat penuh haru orang yang sudah rela memberikan hatinya untuk putrinya . tapi tiba tiba ekspresi muka mama berubah saat melihat tangan kanan Ruth terkulai .

"tunggu suster!!!" perintah mama lalu menghampiri 2 suster itu . papa dan Rafi hanya melihatnya penuh heran .
"sepertinya aku mengenali luka ini...."
------------------------------------------------------------------------------------
mama...mungkin ketika mama menemukan surat ini, orang orang sedang ribut mengurus pamakamanku . maafin Dista atas tindakan ini . tapi mama jangan khawatir, aku sudah memikirkan ini matang matang dan aku ikhlas melakukan ini untuk mama dan Disnia . aku tak bisa menjamin lagi kapan aku bisa menyembuhkan Disnia . melihatnya kritis seminggu yang lalu aku semakin khawatir tak memiliki banyak waktu menolongnya . toh aku sendiri juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya . aku takud mama sedih kehilangan Disnia, maka hari itu juga aku bicara pada dokter bahwa aku ingin mendonorkan hatiku untuk Disnia . aku yakin mama pasti sangat kecewa sama aku karena tak bisa menolong adikku . ma..aku sadar selama ini aku belum memberikan yang terbaik untuk mama . meski terkadang aku harus kecewa mama tak pernah mempudikan aku tapi aku sungguh sayang sama mama . aku gak marah mama pernah meninggalkanku dengan nenek . aku gak marah mama pernah memarahi . aku tetap sayang mama . aku berfikir bila Disnia meninggal mama tak akan pernah bangga melihatnya menjadi model, pemotretan, menjadi duta bahkan keliling keluar negeri . karena aku sendiri tak bisa menjadi sepertinya ma . satu satunya hal membanggakan bagiku untuk mama adalah ketika aku menjuarai lomba gitaris se jabotabek yang sepertinya tetap tak bisa membuat mama bangga . ma meski aku sudah tak ada lagi didunia tapi sebenarnya aku masih hidup ma . hatiku ada pada tubuh Disnia dan artinya aku dan Disnia menyatu . mama jangan menyesal . aku tak memikirkan hal itu . aku sudah ikhlas untuk semuanya ma . oh iya jika nanti keadaan Disnia membaik mama boleh menceritakan hal ini padanya . dan soal acara pertunangan Rafi dengannya aku sangat mendukung . sampaikan salamku untuk papa dan semua pegawai dirumah ma . maaf sebelumnya aku sudah membuat kalian khawatir karena sudah menghilang 2 hari . salam sayang NASILA KLARA ADISTA

sejak pemakaman Dista tadi pagi mama tak banyak bicara . mama hanya duduk didalam kamar, membaca berkali kali surat dari Dista dan terus menangis . mama benar benar syok, tak percaya bahwa orang yang sudah berbaik hati memberikan hatinya untuk Disnia adalah Dista, putri yang sebenarnya sangat disayangi dan dibanggakan .

mama memang merasa ada yang aneh dengan Ruth ketika kemarin diajaknya bicara . gadis itu banyak sekali bercerita pengalaman hidupnya sejak kecil dan merasa sangat dekat dengan mama . terlebih ketika gadis itu tak mau menunjukan mukanya, mama sangat merasa heran . tapi mama merasa lebih heran ketika jenazah Ruth melewati mama dan mama merasa bergetar . mama juga tak percaya ketika mama membetulkan tangan Ruth yang terkulai lalu iseng membuka selimut dan ternyata sosok Dista dibalik selimut itu .

seperti yang dirasakan Dista mama juga ingin memiliki mesin waktu . jika mama tahu bahwa yang mendonorkan hati untuk Disnia adalah Dista, mama akan melarangnya dengan keras . mama lebih rela menunggu Disnia mendapatkan donor dari orang lain atau bahkan tak mendapatkan donoh sama sekali dari pada menerima donor dari anak anak kandungnya sendiri . mama benar benar kecewa pada dirinya yang tak mendengarkan kata hatinya . mama menyesal . tapi mama bisa berbuat apa??? semua sudah terjadi . dan mama hanya bisa memberi banyak doa untuk putrinya itu .
------------------------------------------------------------------------------------
aku udah bahagia hidup seperti ini . burung burung bersikap baik denganku . angin selalu membawaku kemanaku mau . awan yang lembut dan indah tempat menggantungkan harapan . aku sadar tak akan bisa menikmati moment indah ini selamanya . tapi aku bakal menjaga apa yang aku punya . aku bahagia melihat semuanya bahagia . awan tak selamanya gelap . awan tak selamanya terang . tapi kalian selamanya ada dihatiku .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar